MAKALAH
STRUKTUR BANGUNAN GEDUNG
“BETON RINGAN (HEBEL)”
Nama :
Huda Albana
NPM : 14.22.201.0012
FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK SIPIL
UNIVERSITAS SANG BUMI RUWA JURAI
(USBRJ)
2015
KATA PENGANTAR
Dengan mengucapkan puji
dan syukur kehadirat Tuhan YME, karena atas berkat rahmat-Nya penulis dapat
menyelesaikan Makalah
ini untuk memenuhi mata kuliah Struktur Bangunan Gedung.
Dalam penulisan karya tulis ini penulis membahas
tentang “ Beton
Ringan (Hebel)” sesuai dengan tujuan instruksional khusus mata kuliah Struktur Bangunan Gedung, Fakultas Teknik, Universitas Saburai.
Dengan menyelesaikan karya
tulis ini ini, tidak jarang penulis menemui kesulitan. Namun penulis sudah
berusaha sebaik mungkin untuk menyelesaikannya, oleh karena itu penulis
mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak yang membaca yang sifatnya
membangun untuk dijadikan bahan masukan guna penulisan yang akan datang
sehingga menjadi lebih baik lagi. Semoga karya tulis ini bisa bermanfaat bagi
penulis khususnya dan bagi pembaca pada umumnya.
Bandar
Lampung, … Juli
2015
Huda Albana
DAFTAR ISI
Kata Pengantar .......................................................................................................... 2
Daftar
Isi ................................................................................................................... 3
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang ................................................................................................... 4
1.2. Rumusan Masalah............................................................................................... 4
1.3. Tujuan.................................................................................................................. 4
BAB II PEMBAHASAN
2.1. Definisi Beton Ringan........................................................................................ 5
2.2. Sejarah Beton Ringan......................................................................................... 6
2.3. Kelebihan dan Kekurangan
Beton Ringan......................................................... 6
2.4. Pembuatan Beton Ringan................................................................................... 8
2.5. Aplikasi Beton Ringan ....................................................................................... 9
a). Beton
Ringan Aerasi ..................................................................................... 10
b). Super
Panel Dinding ..................................................................................... 10
c). Perbandingan Batako dan Hebel
(Beton Ringan).......................................... 10
BAB III PENUTUP
3.1.
Simpulan ............................................................................................................ 12
3.2.
Saran .................................................................................................................. 12
Daftar
Pustaka .......................................................................................................... 13
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Dengan semakin pesatnya pertumbuhan pengetahuan
dan teknologi di bidang konstruksi yang mendorong kita lebih memperhatikan
standar mutu serta produktivitas kerja untuk dapat berperan serta dalam
meningkatkan sebuah pembangunan konstruksi dengan lebih berkualitas. Diperlukan
suatu bahan bangunan yang memiliki keunggulan yang lebih baik dibandingkan
bahan bangunan yang sudah ada selama ini. Selain itu bahan tersebut harus
memiliki beberapa keuntungan seperti bentuk yang dapat menyesuaikan dengan
kebutuhan, spesifikasi teknis dan daya tahan yang kuat, kecepatan pelaksanaan
konstruksi serta ramah lingkungan. Jenis bahan bangunan pada bangunan
konstruksi tersebut sangat bervariasi misalnya beton, pasir, kerikil.
Dewasa ini kata “Beton” sudah tidak
asing lagi di kalangan para Engineer. Karena sudah hampir sebagian besar
gedung-gedung dan sarana infrastruktur di daerah kota menggunakan beton sebagai
bahan dasar dari bangunan mereka. Penggunaan beton pada gedung dilakukan dalam
rangka menghemat pengeluaran dalam suatu proses konstruksi. Selain harganya
yang terjangkau beton juga memiliki kuat tekan yang tinggi.
Rasa tertarik pada penggunaan beton
ini, akhirnya menimbulkan banyaknya jenis dari beton itu sendiri. Salah satu
yang kita kenal adalah Beton Ringan (lightweight concrete) atau yang lebih
dikenal dengan sebutan Hebel. Dalam tugas makalah ini saya akan menjelaskan
mengenai “Beton Ringan”.
1.2. Rumusan
Masalah
·
Apa definisi dari
Beton Ringan ?
·
Bagaimana Sejarah dari
Beton Ringan ?
·
Apa saja Kelebihan dan
Kekurangan dari Beton Ringan ?
·
Bagaimana Cara
Pembuatan Beton Ringan ?
·
Apa saja Bentuk
Aplikasi Beton Ringan yang ada pada Proyek ?
1.3. Tujuan
·
Mengetahui definisi
dari Beton Ringan.
·
Mengetahui sejarah
dari Beton Ringan.
·
Mengetahui Kelebihan
dan Kekurangan dari Beton Ringan.
·
Mengetahui Cara Pembuatan
Beton Ringan.
·
Mengetahui Bentuk
Aplikasi Beton Ringan yang ada pada Proyek.
BAB II
PEMBAHASAN
Beton Ringan/Lightweight Concrete (Hebel) Penggunaan beton ringan sebagai
material alternatif pembentuk dinding dapat memberi penghematan yang signifikan
pada pembuatan dinding.
Bagian rumah yang dapat ditekan spek
materialnya dan memberi penghematan yang signifikan adalah dinding. Kabar
baiknya, saat ini ada begitu banyak pilihan bahan alternatif yang tentu saja
memberi tawaran lebih dibanding pendahulunya yaitu material konvensional : batu
bata dan batako.
Jika selama ini banyak orang terpaku
dengan pilihannya menggunakan batu bata konvensional atau batako untuk dinding
rumahnya, lebih pada alasan karena bahan inilah yang paling umum digunakan dan
sudah mentradisi. Sedangkan alasan lain menyangkut teknis adalah kemudahannya
ditemukan di pasaran.
Tak dipungkiri, material
alternatif yang berupa beton ringan ini
lebih banyak dan mudah ditemukan di kota-kota besar. Keterbatasan inilah yang
menjadi salah satu penghambat penerimaan masyarakat terhadap material
alternatif ini. Meski, secara varian dan jenis pilihannya sangat beragam dan
jelas memiliki kelebihan dibanding batu bata konvensional atau batako.
2.1. Definisi Beton Ringan
Beton ringan adalah beton yang
memiliki berat jenis (density) lebih ringan daripada beton pada umumnya. Beton
ringan bisa disebut sebagai beton ringan aerasi (Aerated Lightweight
Concrete/ALC) atau sering disebut juga (Autoclaved Aerated Concrete/ AAC) yang
mempunyai bahan baku utama terdiri dari pasir silika, kapur, semen, air,
ditambah dengan suatu bahan pengembang yang kemudian dirawat dengan tekanan uap
air. Tidak seperti beton biasa, berat beton ringan dapat diatur sesuai
kebutuhan. Pada umumnya berat beton ringan berkisar antara 600 – 1600 kg/m3.
Karena itu keunggulan beton ringan utamanya ada pada berat, sehingga apabila
digunakan pada proyek bangunan tinggi (high rise building) akan dapat secara
signifikan mengurangi berat sendiri bangunan, yang selanjutnya berdampak kepada
perhitungan pondasi.
2.2. Sejarah Beton Ringan
Teknologi material bahan bangunan
berkembang terus, salah satunya beton ringan aerasi (Aerated Lightweight
Concrete/ALC) atau sering disebut juga (Autoclaved Aerated Concrete/ AAC).
Sebutan lainnya Autoclaved Concrete, Cellular Concrete (semen dengan cairan
kimia penghasil gelembung udara ), Porous Concrete, dan di Inggris disebut
Aircrete and Thermalite.
Beton ringan AAC ini pertama kali
dikembangkan di Swedia pada tahun 1923 sebagai alternatif material bangunan
untuk mengurangi penggundulan hutan. Beton ringan AAC ini kemudian dikembangkan
lagi oleh Joseph Hebel di Jerman Barat di tahun 1943.
Dia memutuskan untuk mengembangkan
sistem bangunan yang lebih baik dengan biaya yang lebih ekonomis.
Inovasi-inovasi brilian yang dilakukannya, seperti proses pemotongan dengan
menggunakan kawat, membuka kemungkinan-kemungkinan baru bagi perkembangan
produk ini.
Hasilnya, beton ringan aerasi ini
dianggap sempurna, termasuk material bangunan yang ramah lingkungan, karena
dibuat dari sumber daya alam yang berlimpah. Sifatnya kuat, tahan lama, mudah
dibentuk, efisien, dan berdaya guna tinggi.
Kesuksesan Hebel di Jerman segera
dilihat negara-negara lain. Pada tahun 1967 bekerja sama dengan Asahi Chemicals
dibangun pabrik Hebel pertama di Jepang. Sampai saat ini Hebel telah berada di
29 negara dan merupakan produsen beton aerasi terbesar di dunia. Di Indonesia
sendiri beton ringan mulai dikenal sejak tahun 1995, saat didirikannya PT Hebel
Indonesia di Karawang Timur, Jawa Barat.
2.3. Kelebihan dan Kekurangan Beton Ringan
Ada beberapa Kelebihan
dari Beton ringan atau Autoclaved Aerated Concrete (AAC), yaitu :
·
Balok AAC mudah
dibentuk. Sehingga dapat dengan cepat dan akurat dipotong atau dibentuk untuk memenuhi
tuntutan dekorasi gedung. Alat yang digunakan pun sederhana, cukup menggunakan
alat pertukangan kayu.
·
Karena ukurannya yang
akurat tetapi mudah dibentuk, sehingga dapat meminimalkan sisa-sisa bahan
bangunan yang tak terpakai.
·
AAC dapat mempermudah
proses konstruksi. Untuk membangun sebuah gedung dapat diminimalisir produk
yang akan digunakan. Misalnya tidak perlu batu atau kerikil untuk mengisi
lantai beton.
·
Bobotnya yang ringan
mengurangi biaya transportasi. Apalagi pabrik AAC dibangun sedekat mungkin
dengan konsumennya.
·
Karena ringan, tukang
bangunan tidak cepat lelah. Sehingga cepat dalam pengerjaannya.
·
Semennya khusus cukup
3 mm saja.
·
Mengurangi biaya
struktur besi sloff atau penguat.
·
Mengurangi biaya
penguat atau pondasi
·
Waktu pembangunan
lebih pendek.
·
Tukang yang
mengerjakan lebih sedikit. Sehingga secara keseluruhan bisa lebih murah dan
efisien
·
Tahan panas dan api,
karena berat jenisnya rendah.
·
Kedap suara
·
Tahan lama, kurang
lebih sama tahan lamanya dengan beton konvensional
·
Kuat tetapi ringan,
karena tidak sekuat beton. Perlu perlakuan khusus. dibebani AC menggunakan
fisher FTP, Wastafel fisher plug FX6/8, panel dinding fisher sistem injeksi.
·
Anti jamur
·
Tahan gempa
·
Anti serangga
·
Biaya perawatan yang
sedikit, bangunan tak terlalu banyak mengalami perubahan atau renovasi hingga
20 tahun.
·
Nyaman
·
Aman, karena tidak
mengalami rapuh, bengkok, berkarat, korosi.
Selain kelebihan, Beton AAC juga memiliki beberapa kelemahan, yaitu :
·
Karena ukurannya yang
besar, untuk ukuran yang tanggung, akan memakan waste yang cukup besar.
Diperlukan keahlian tambahan untuk tukang yang akan memasangnya, karena
dampaknya berakibat pada waste dan mutu pemasangan.
·
Perekat yang digunakan
harus disesuaikan dengan ketentuan produsennya, umumnya adalah semen instan.
·
Nilai kuat tekannya
(compressive strength) terbatas, sehingga sangat tidak dianjurkan penggunaan
untuk perkuatan (struktural).
·
Harganya cenderung
lebih mahal dari bata konvesional. Di pasaran, beton ringan dalam bentuk bata
dijual dalam volume m3, sehingga dengan ukuran 60cmx20cmx10cm / m3 bata ringan
terdiri dari 83 buah. Jika dikonversikan dalam m2 maka 1 m2 terdiri dari 8.5
buah. Harga per bata kurang lebih Rp. 8000,-, sehingga harga per m2 nya
Rp.68.000,-. Belum termasuk semen instan dan ongkos pasangnya.
2.4. Pembuatan Beton Ringan
Pembuatan beton ringan ini
pada prinsipnya membuat rongga udara di dalam beton. Ada tiga macam cara
membuat beton aerasi, yaitu :
·
Yang paling sederhana
yaitu dengan memberikan agregat/campuran isian beton ringan. Agregat itu bisa berupa
batu apung, stereofoam, batu alwa, atau abu terbang yang dijadikan batu.
·
Menghilangkan agregat
halus (agregat halusnya disaring, contohnya debu/abu terbangnya dibersihkan).
·
Meniupkan atau mengisi
udara di dalam beton. Cara ketiga ini terbagi lagi menjadi secara mekanis dan
secara kimiawi.
Proses pembuatan beton
ringan atau Autoclaved Aerated Concrete secara kimiawi kini lebih sering
digunakan. Sebelum beton diproses secara aerasi dan dikeringkan secara
autoclave, dibuat dulu adonan beton ringan ini. Adonannya terdiri dari pasir
kwarsa, Semen, Kapur, Gypsum, Aluminium pasta (Zat Pengembang)dan Air. Untuk
memproduksi 1 m3 beton ringan hanya dibutuhkan bahan sebanyak ± 0,5 – 0,6 m3
saja, karena nantinya campuran ini akan mengembang. Dalam komposisinya, secara
umum pasir kwarsa memiliki persentase yang cukup tinggi yaitu berkisar 60%,
kemudian perekat yang terdiri dari semen dan kapur sebanyak 30%, dan sisanya
sebanyak 10% yaitu campuran gypsum, aluminium pasta dan air.
Semen yang digunakan
merupakan semen tipe I. Semen tipe I merupakan yang biasanya digunakan untuk
segala macam jenis konstruksi. Untuk proses produksi, dalam 1 hari dapat
dihasilkan beton ringan sebanyak ± 300 – 400 m3. Pembuatan beton ringan ini
sepenuhnya dikerjakaan dengan mesin. Mesin yang digunakan seperti mesin
penggiling, mesin mixxing, mesin cutting, autoclaved chamber. Untuk proses awal
semua bahan baku ditempatkan didalam tangki masing – masing untuk mempermudah
proses pencampuran. Khusus untuk pasir kuarsa harus dimasukkan kedalam mesin
penggiling terlebih dahulu sebelum dimasukkan ke dalam tangki, untuk
menghaluskan butiran – butiran pasir. Kemudian melalui ruang control, diatur
kadar campuran yang akan dibuat. Kadar campuran dapat berubah – ubah tergantung
dari keadaan bahan baku yang ada. Kemudian campuran beton ringan tersebut
dituangkan kedalam cetakan yang memiliki ukuran 4,20 x 1,20 x 0,60 m. Adonan
tersebut diisikan sebanyak ½ bagian saja. Kemudian didiamkan sekitar ± 3 – 4
jam, sehingga adonan dapat mengembang.
Dalam proses pengembangan
ini, terjadi reaksi kimia. Saat pencampuran pasir kuarsa, semen, kapur, sedikit
gypsum, air, dan dicampur alumunium pasta ini terjadi reaksi kimia. Bubuk
alumunium bereaksi dengan kalsium hidroksida yang ada di dalam pasir kwarsa dan
air sehingga membentuk hidrogen. Gas hidrogen ini membentuk gelembung-gelembung
udara di dalam campuran beton tadi. Gelembung-gelembung udara ini menjadikan
volumenya menjadi dua kali lebih besar dari volume semula. Di akhir proses
pengembangan atau pembusaan, hidrogen akan terlepas ke atmosfir dan langsung
digantikan oleh udara. Rongga-rongga udara yang terbentuk ini yang membuat
beton ini menjadi ringan.
Meskipun hidrogennya
hilang, tekstur beton tetap padat tetapi lembut. Sehingga mudah dibentuk balok,
atau palang sesuai kebutuhan. Setelah mengembang, adonan dipotong untuk
memperoleh ukuran yang persisi, karena pada saat pengembangan ukurannya tidak
dapat dikontrol sehingga dipotong setelah proses pengembangan selesai.
Setelah melalui proses
pemotongan, beton ringan dimasukkan kedalam autoclave chamber selama ± 12 jam.
Didalam autoclaved ini pasir kwarsa bereaksi dengan kalsium hidroksida menjadi
kalsium hidrat silika. Dalam proses ini beton ringan diberi tekanan sebesar 11
bar atau sebesar 264 psi ( = 1,82 Mpa) dengan suhu setinggi 374 ⁰F. Sehingga terbentuk
kalsium silikat dan beton ringan berubah warna menjadi putih. Pada saat didalam
autoclaved ini, semua reaksi kimia dituntaskan dan dibersihkan pada suhu
tinggi, sehingga nantinya pada saat digunakan tidak mengandung reaksi kimia
yang berbahaya. Kenapa tidak dijemur saja? Karena kalau adonan ini dijemur di
bawah terik matahari hasilnya kurang maksimal, karena tidak bisa stabil dan
merata hasil kekeringannya.
Setelah keluar dari
autoclave chamber, beton ringan aerasi ini sudah siap untuk dipasarkan dan
digunakan sebagai konstruksi bangunan.
2.5. Aplikasi Beton Ringan
Dengan berbagai kelebihan
dari beton ringan yang telah disebutkan di atas, saat ini beton ringan banyak
diaplikasi dalam pelbagai proyek dalam bentuk :
·
Blok (bata)
Contohnya Bata Celcon, yang dapat digunakan pada dinding dan atap.
·
Panel
Contohnya Panel beton ringan yang digunakan sebagai pengganti tembok.
·
Bentuk Khusus
Contohnya bentuk-bentuk dekorasi, sebagai ornamen bangunan.
·
Ready Mix
Contohnya pada ready mix sebagai material pengisi.
a)
Beton Ringan Aerasi
Autoclaved Aerated Concrete atau
beton ringan aerasi. Selama ini beberapa orang menyebutnya "hebel",
padahal ini adalah nama merk dagang yang dikeluarkan oleh PT Duta Mortar
Sejati. Di pasaran ada beberapa merk lain seperti "Andatu" milik PT
Sido Jaya dan "Aero Block" yang diproduksi oleh PT Pratama
Konstruksindo.
Banyak kelebihan dimiliki oleh
produk ini. Bobotnya yang ringan membuat pembebanan terhadap struktur di
bawahnya juga kecil sehingga ukuran pondasi juga lebih kecil dan biaya bisa
ditekan.
Dimensi produk ini lebih besar dari
pada bata konvensional. Punya banyak ukuran, tak seperti bata yang umumnya
berdimensi 20cm x 10cm x 5cm. Beton ringan yang banyak dipakai di pasaran berukuran
: panjang (l) = 600 mm ; tinggi (h) = 200 mm, tebal (t) = 75 mm, 100 mm, 125
mm, 150 mm, 175 mm, atau 200 mm. Besarnya ukuran ini memberikan keuntungan pada
pekerjaan dinding sehingga menjadi lebih cepat selesai. Selain itu, memberi
penghematan dalam pembangunan konstruksi, baik dari bahan maupun dari tenaga
kerja. Proses pemasangannya juga tidak membutuhkan adukan pasangan yang tebal
tapi cukup direkatkan dengan semen instan tipis-tipis saja.
b)
Super Panel Dinding
Berbahan sama dengan beton ringan aerasi
namun dilengkapi dengan tulangan besi baja, membuat panel ini layak
diperhitungkan sebagai material pengganti dinding. Memenuhi syarat untuk
digunakan sebagai dinding internal maupun eksternal dan memberi keuntungan yang
berarti dalam proses konstruksi bangunan.
Pemasangan cepat dan efisien, satu
grup (2 pekerja) dapat memasang 35 m2 per hari. Hemat biaya karena tidak lagi
memerlukan kolom praktis karena sudah diperkuat dengan tulangan besi. Memiliki
bobot yang ringan sehingga mengurangi beban yang diterima oleh struktur utama
dibanding jika menggunakan bata konvensional.
Fisiknya berupa panel dengan
komponen utama adalah rangka baja yang diproteksi anti karat. Untuk sistem
dinding internal ukuran dibuat setebal 7,5 cm sehingga memperbesar luas lantai
efektif.
c)
Perbandingan Batako
dan Hebel (Beton Ringan)
Dewasa ini bahan bangunan semakin
beragam.Mulai dari pengganti bata dengan menggunakan hebel atau plat lantai
diganti menggunakan penutup yang berbahan ringan serta untuk atap yang tidak
lagi menggunakan kayu sebagai kuda - kuda maupun untuk reng dan usuknya, tetapi
saat ini masyarakat tren menggunakan baja ringan sebagai pengganti kayu.
Hebel atau beton ringan untuk bahan
adonannya antara lain terdiri dari pasir kwarsa, semen, kapur, sedikit gypsum,
air, dan alumunium pasta sebagai bahan pengembang (pengisi udara secara
kimiawi). Setelah adonan tercampur sempurna, nantinya akan mengembang selama
7-8 jam.
Alumunium pasta yang digunakan dalam
adonan tadi, selain berfungsi sebagai pengembang ia berperan dalam mempengaruhi
kekerasan beton. Volume aluminium pasta ini berkisar 5-8 persen dari adonan
yang dibuat, tergantung kepadatan yang diinginkan. Adonan beton aerasi ini
lantas dipotong sesuai ukuran.
Sedang untuk batu bata batu bata
terdiri atas jenis bata tanah liat atau lempung, bata pasir kapur, dan bata
mortar. Sedangkan dari segi pembuatannya, ada batu bata merah konvensional dan
bata press.
Untuk segi ukuran batu bata 25 x 12
x 4,5 cm atau lebih kecil beberapa centi. Untuk hebel ukuran lazimnya 20 x 60 x
10 cm atau tebalnya dapat lebih kecil sedikit.Dalam penggunanan bata sebagai
penutup dinding biasa digunakan kurang lebih sekitar 85 buah.Sedang untuk hebel
rata - rata digunakan sebanyak 8,5 buah.
Apabila dilihat dari segi harga
untuk satu buah batu bata berkisar Rp 375,- / buahnya.Untuk hebel Rp 650.000,-
/m3. Sehingga harga satuan rata - rata Rp. 6.500,- / buah. Sehingga dalam 1m2
untuk batu bata besar biaya Rp 375,- x 85 = Rp. 31.875,- ( diluar dari speci ).
Dan untuk Hebel dalam
1m2 adalah Rp. 6.500,- x 8,5 = Rp. 55.250,- ( diluar dari speci ).Memang untuk
hebel harga jatuh lebih tinggi. Namun dari segi berat untuk distruktur,hebel
lebih ringan, cepat dan ekonomis dalam pengerjaannya.
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
·
Beton ringan lebih
mudah diperoleh karena jumlah produksi yang cukup banyak dalam sehari.
·
Beton ringan lebih
ramah lingkungan dan ekonomis, karena bahan – bahan yang digunakan
merupakan bahan yang tidak bermanfaat
untuk lingkungan dan jumlahnya sangat banyak.
·
Proses pembuatan beton
ringan atau Autoclaved Aerated Concrete secara kimiawi lebih sering digunakan.
·
Secara totalitas
pengunaan beton ringan lebih mudah dan efektif dibandingkan beton pada umumnya
(dalam hal tertentu).
3.2. Saran
·
Tidak menggunakan
beton ringan sebagai perkuatan (struktural).
·
Dalam pemasangan beton
ringan, sebaiknya menggunakan tukang yang memiliki keahlian tambahan.
·
Gunakan Autoclave Chamber
dalam proses pengeringan.
DAFTAR PUSTAKA
http://www.scribd.com
http://www.eramuslim.com/konsultasi/arsitektur/penggunaan-bata-celcon.htm
http://www.wikipedia.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar